Upaya pencegahan abrasi pantai terus dilakukan oleh berbagai pihak, salah satunya melalui aksi penanaman mangrove di wilayah pesisir. Universitas Pertamina bersama Pertamina Foundation menggelar kegiatan penanaman 1.400 bibit mangrove di pesisir Desa Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, pada 10 Januari 2026, sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam menjaga ekosistem pesisir dan menekan laju abrasi.

Wilayah Muara Gembong telah menghadapi permasalahan abrasi selama kurang lebih 15 hingga 20 tahun terakhir. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh faktor alam seperti gelombang laut yang terus mengikis daratan, serta aktivitas manusia di masa lalu berupa pembabatan hutan mangrove yang berfungsi sebagai penahan alami abrasi. Hilangnya vegetasi mangrove menyebabkan garis pantai semakin rentan terhadap pengikisan dan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat pesisir.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Sumirda, menilai bahwa penanaman mangrove merupakan langkah strategis dan efektif dalam menghadapi abrasi. Mangrove tidak hanya berperan sebagai benteng alami yang mampu menahan gelombang dan mengurangi pengikisan pantai, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Keberadaan mangrove turut mendukung keberlanjutan mata pencaharian nelayan dengan menjaga habitat biota laut di sekitar pesisir.

Kegiatan penanaman tersebut merupakan bagian dari program jangka panjang Universitas Pertamina dan Pertamina Foundation yang menargetkan penanaman 10.000 bibit mangrove dalam kurun waktu lima tahun. Sejak 2024 hingga awal 2026, total 4.400 bibit mangrove telah berhasil ditanam di kawasan pesisir Muara Gembong. Dari jumlah tersebut, Universitas Pertamina secara khusus telah menanam 3.000 bibit mangrove hingga Januari 2026, termasuk tambahan 1.400 bibit pada kegiatan kali ini. Sisa 5.600 bibit lainnya direncanakan akan ditanam secara bertahap pada tahap berikutnya.

Dalam pelaksanaannya, Universitas Pertamina dan Pertamina Foundation bekerja sama dengan KNTI dalam menentukan jenis mangrove yang ditanam. Bibit yang dipilih merupakan mangrove jenis Rhizophora apiculata atau bakau, yang dikenal sebagai salah satu spesies unggulan dengan daya adaptasi tinggi di wilayah pesisir berlumpur.

Pemilihan jenis bakau didasarkan pada berbagai pertimbangan ekologis. Bakau memiliki kemampuan menyerap gas karbon dioksida melalui proses fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa tanaman serta sistem perakarannya. Akar tunjang yang kuat dan tumbuh menancap ke dalam tanah memungkinkan bakau menyimpan karbon dalam jumlah besar sekaligus memperkuat struktur tanah pesisir. Penerapan jarak tanam 1 x 1 meter dinilai mampu memberikan ruang tumbuh yang optimal bagi perkembangan akar dan batang tanaman.

Pada kegiatan tersebut, Sumirda juga memberikan pembekalan kepada para Sobat Bumi Universitas Pertamina yang terlibat sebagai peserta penanaman. Pembekalan mencakup tata cara penanaman mangrove yang tepat serta pengenalan kondisi lingkungan Muara Gembong agar bibit dapat tumbuh dengan tingkat keberhasilan yang lebih tinggi.

Setelah kegiatan penanaman selesai, KNTI akan melakukan pemantauan secara berkala terhadap pertumbuhan bibit mangrove yang telah ditanam. Pemantauan tersebut bertujuan untuk menilai tingkat kelangsungan hidup tanaman serta mencatat perkembangan pertumbuhannya dari waktu ke waktu. Pengawasan juga dilakukan untuk meminimalkan risiko kematian bibit akibat faktor lingkungan seperti terbawa arus, tertutup sampah, atau terdampak abrasi lanjutan.

Melalui upaya berkelanjutan tersebut, diharapkan mangrove yang ditanam dapat tumbuh secara optimal dan menjalankan fungsinya sebagai penyerap karbon sekaligus penahan abrasi pantai. Kegiatan kolaboratif antara Universitas Pertamina, Pertamina Foundation, dan KNTI diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi kelestarian lingkungan pesisir serta meningkatkan ketahanan wilayah Muara Gembong terhadap ancaman abrasi.